SITUASI KAMPUS UPN VETERAN YOGYAKARTA

Diposkan oleh sebastian-Nomor1 on Minggu, 13 Maret 2011

1. Gambaran Umum UPN Veteran
UPN ”Veteran” Yogyakarta semula bernama Akademi Pembangunan Nasional (APN) Veteran didirikan oleh Menteri Urusan Veteran RI berdasarkan Keputusan Menteri NO : 139/KPTS/tahun 1958 tanggal 8 Oktober 1958. Kuliah pertama pada tanggal 15 Desember 1958 diputuskan sebagai hari jadi / Dies Natalis UPN “Veteran” Yogyakarta.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan Menteri Pertahanan Keamanan RI No. 0307/0/1994 dan Kep/10/XI/1994 tanggal 29 Nopember 1994 terhitung mulai tanggal 1 April 1995, UPN “Veteran” Yogyakarta beralih status dari Perguruan Tinggi Kedinasan dibawah Dephankam menjadi Perguruan Tinggi Swasta.
Mulai tanggal 10 April 1996 UPN "Veteran" Yogyakarta bernaung dibawah Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman (YKPBS) yang didirikan oleh Menhankam dan Pangab pada tanggal 19 Desember 1989. dan sekarang bernaung dibawah Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan (YKPP), YKPP juga membawahi SMA Taruna Nusantara di Magelang.
UPN memiliki 2 Bangunan Kampus yang letaknya terpisah. Kampus I berada di JL.SWK 104 (Ringroad) Condong Catur, yang terdiri dari Rektorat, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknologi Mineral, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Pertanian, Auditorium, Perpustakaan, dan Gedung UKM. Sedangkan Kampus II terletak di Jl.Babarsari No.2-Tambakbayan. Dikampus II terdapat Kampus FISIP dan Fakultas Teknologi Industri, Gedung UPT, dan Sport Hall. Secara Umum Pusat Kegiatan Mahasiswa lebih banyak di kampus I. Begitu juga aktivitas politik kampus. Mulai dari Birokerasi Hingga Lembaga Kemahasiswaannya berkedudukan di kampus I. Sehingga dapat dikatakan Geopolitik kampus UPN berada di kampus I. Sedangkan di Kampus II, aktivitas politik sangat minim, berbagai kontradiksi yang ada hanya sebatas arogansi jurusan. Maksudnya adalah permusuhan antar Jurusan dan Fakultas.
I. Fasilitas Kampus
UPN memiliki berbagai macam sarana dan prasarana untuk kegiatan mahasiswa dan dosen serta umum. Seperti Sarana Olahraga terdapat lapangan bola, lap.softball, auditorium dan sport hall. Serta Sekretariat UKM yang terpusat di Gedung UKM.
Untuk fasilitas Akademik, UPN memiliki 2 perpustakaan di kampus I dan Kampus II, system persputakaan yang canggih, Sistem Nilai Online CBIS(Computer Basic Information System). Hotspot Area, Laboratorium dll.

II. Jumlah UKM
UPN memiliki 24 unit kegiatan mahasiswa diantaranya adalah Menwa, KSR PMI, SENI, Pramuka, MAPALA, Paduan Suara, Marching Band, ECDC, Kopma, UKM Keagamaan(Islam, Kristen,Katolik,Hindhu), UKM Beladiri(Kempo,Silat,Karate, UKM Olahraga(Sepakbola, Volley,Basket,Bulutangkis, Hockey, dan Baseball. Semua UKM tersebut adalah merupakan badan otonom yang langsung dikelola oleh Mahasiswa. Tapi sayangnya, sejauh ini kegiatan kelompok diskusi belum ada di sekitar kampus. Jika pun ada kelompok-kelompok tersebut tidak begitu eksis. Untuk itu potensi Intervensi organisasi gerakan dapat dilakukan dan berpeluang menghegemoni mahasiswa.

III. Biaya Pendidikan
Biaya pendidikan di UPN tiap tahunnya selalu meningkat. Mulai dari Biaya SKS Variabel yang pasti naik dengan nominal Rp.5000, Biaya praktikum, Biaya Sumbangan Mahasiswa Baru. Sejah ini kami masih belum dapat perbandingan rincian biaya dari tahun lalu hinga sekarang.
Disisi lain, Pihak kampus berdalih bahwa kenaikan biaya tersebut masih wajar, mengingat biaya bahan pokok terus merangkak naik. Dan jika dibandingkan dengan universitas swasta yang lain, biaya di UPN masih relative lebih murah. Disisi mahasiswa, mereka sangat mengeluh atas kebijakan biaya tersebut karena mereka (mahasiswa) yang tidak begitu mampu akan terancam berhenti kuliah akibat menunggak biaya. Apalagi Syarat Pengambilan KTM(Kartu Tanda Mahasiswa) tiap awal semester harus menunjukkan bukti pembayaran, jika tidak mahasiswa akan tidak mendapat KTM dan terancam tidak dapat mengikuti ujian serta perkuliahan.
IV. Sistem Belajar-Mengajar
Sistem pembelajaran di UPN tidak jauh berbeda dengan Universitas lainnya, yang masih menggunakan kurikulum tahun 2003. Padahal beberapa mata kuliah kuno seperti Pancasila, Kewarganegaraan sudah tidak efektif lagi dengan realita zaman modern sekarang ini. Peraturan itu menurut birokerasi kampus adalah implementasi dari peraturan DIKTI melalui Kopertis V DIY. Beberapa dosen ada yang menerapkan cara mengajar interaktif dan komunikasi dua arah dengan mahasiswa sehingga mahasiswa dapat meminta penjelasan tentang pelajaran yang diberikan, namun sayangnya ini tidak seragam dilakukan oleh para dosen. Ada juga dosen yang masih monoton cara mengajarnya dan membosankan, sehingga tidak heran jika banyak mahasiswa yang tidur di dalam kelas.
V. Jumlah Fakultas dan Jurusan
UPN memiliki 5 Fakultas, yaitu
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik : Fakultas Pertanian:
- Administrasi Bisnis - Agrobisnis
- Hubungan Internasional - Agroteknologi
- Ilmu Komunikasi
Fakultas Teknologi Industri
- Teknik Industri
- Teknik Kimia
- Teknik Informatika
Fakultas Teknologi Mineral :
- T. Perminyakan
- T. Pertambangan
- T. Geofisika
- T. Geologi
- T. Lingkungan
Fakultas Ekonomi
- Ekonomi Pembangunan
- Manajemen
- Akutansi

2. Kondisi Politik Kampus
Kasus yang sedang berkembang di UPN saat ini adalah :
1. Kasus Kebijakan Absensi 85 %
2. Kasus Korupsi Rektor
3. Peralihan Status Swasta UPN menjadi Negeri
4. Terpecahnya BEM dan HMJ yang tidak Progressiv
1. Kebijakan Absensi 85%
Kebijakan ini resmi dikeluarkan pada awal semester genap tahun ini pada Februari Lalu, yang mengharuskan mahasiswa Hadir selama 12 kali pertemuan dalam satu semester, yang artinya mahasiswa hanya bisa 2 kali tidak masuk. Peraturan ini dibuat karena alasan meningkatkan kualitas mahasiswa agar lebih rajin kuliah. Padahal akibat dari kebijakan ini banyak mahasiswa yang terBlack List dan tidak bisa mengikuti ujin karena lebih dari 2 kali tidak masuk, hal ini tentu sangat merugikan mahasiswa. Karena Kasus ini sempat ada Aksi Massa Di Kampus II tepatnya Fisip pada tanggal 23 Februari, namun sayangnya aksi ini tidak terkoordinasi dengan baik dan tuntutan mereka tak disertai dengan pengawalan serta tindak lanjut. Sehingga hanya sekilas saja terjadi. Tapi ada beberapa mahasiswa yang meminta BEM untuk memediasi pertemuan dengan Birokerasi agar ada dialog. Terakhir yang info yang kami dapat dari Dekan Fisip bahwa Peraturan Absensi akan kembali lagi ke 75%. Tapi sejauh ini pemantauan terus dilakukan.
2. Kasus Korupsi Rektor
Kasus ini telah mencuat pada tanggal 12 april dimana Rektor UPN (Dr. Didit Welly) ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi sebanyak 2,4 Milyar. Penetapan ini dilakukan oleh Kejaksaan DIY, setelah mendapat laporan dari BPH(Badan Pengurus Harian) dari Yayasan.
Menurut penjelasan Dari Dekan Fisip ( Asep Saepudin, Msi) bahwa kasus ini bukan kasus korupsi karena tidak merugikan Negara. Dan pemberitaan di media itu keliru karena Uang yang dipakai itu bukan dari Sumbangan Mahasiswa melainkan Uang Administrasi Pendaftaran Mahasiswa baru. Dan uang itu diberikan kepada seluruh civitas akademika dan karyawan hingga tukang sapu sebagai gaji ke 13. Prosedur yang dilalui juga sudah benar karena telah melalui Senat Universitas. Penjelasan ini juga serupa dengan yang dilontarkan oleh Ketua Jurusn Ilmu Komunikasi (Agung Prabowo,SIP,Msi).
Analisis kami adalah ada kejanggalan dari proses pengambilan keputusan disenat karena tidak ada mahasiswa yang terlibat. Ini terjadi karena belum terciptanya demokratisasi kampus, sehingga kasus ini sangat mengejutkan mahasiswa dan lembaga-lembaganya. Belum lagi dengan melihat kasus pergantian mobil dinas setiap tahun, yang sangat membuang anggaran. Seharusnya anggaran itu lebih baik diberikan untuk subsidi mahasiswa agar biayanya tidak naik lagi dan untuk peningkatan sarana dan prasarana. Tapi ada penjelasan dari salah seorang dosen yang menyatakan bahwa itu sudah kebijakan kampus dan ini legal keputusannya oleh senat. Dampak privatisasi pendidikan memang sangat terasa di kampus UPN.
3. Peralihan Status Swasta UPN menjadi Negeri
Sempat beredar issu bahwa UPN akan menjadi Kampus Negeri dikalangan mahasiswa. Dan berangkat dari situ kami langsung meminta konfirmasi ke birokerasi. Ternyata benar, diharapakan pada tahun 2011-2012 UPN sudah dinegerikan. Ini karena status UPN dulunya memang negeri dibawah Dephan lalu pada tahun 1995 menjadi swasta, sehingga bangunan dan tanah UPN saat ini adalah milik Negara, sehingga UPN kembali dipertanyakan statusnya. Jika UPN menjadi negeri seharusnya biayanya akan semakin murah, tapi dapat dilihat realitanya nanti.

4. Terpecahnya BEM dan HMJ yang tidak Progressive
Kasus terakhir adalah masalah Badan Eksekutif Mahasiwa Universitas yang kehilangan koordinasi dengan beberapa BEM di fakultas. Kasus ini akibat hegemoni beberapa mahasiswa dari T. Perminyakan yang selalu menjadi Presiden Mahasiswa, sehingga kebijakan-kebijkannya lebih terpusat pada kampus I. Yang berkontradiksi dengan BEM Universitas salah satunya adalah BEM FISIP yang menyatakan bahwa BEM Fisip memiliki Otoritas Kepemimpinan Sendiri dan tidak mau mengikuti kebijakan dari BEM Universitas. Implementasi kasus ini adal pada masa Ospek 2009, dimana MABA di fisip dilarang mengikuti kegiatan Ospek di Universitas. HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) yang ada juga hanya mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berbau EO dan Musik dan Band, hamper setiap jurusan. Disisi lain kegiatan advokasi mahasiswa dan advokasi masyarakat justru kurang. Ini sangat disayangkan karena mahasiswa benar-benar hanya tahu realita dikampus saja. Mereka seakan dibutakan dengan fenomena social n apatis terhadap rakyat.
3. Kelembagaan Atau Situasi Gerakan
3. 1 Lembaga Internal

Lembaga-lembaga internal tersebut dengan jelas berlandaskan ideologi pancasila dan Widya Mwat Yasa(Sesanti Atau Motto UPN).
3. 2 Lembaga Eksternal
Sejauh ini gerakan-gerakan mahasiswa luar yang ada di UPN belum banyak berkembang. Beberapa yang masih aktif adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Al-Kharazmi, KAMMI, dan PEMBEBASAN (Eks LMND-PRM). Tap gerakan-gerakan tersebut belum terlihat kontradiksinya dikampus dan belum ada hegemoni yang tercipt. Kecuali, KAMMI yang sudah masuk pada Masjid Kampus UPN yang takmir-takmirnya banyak yang anggota KAMMI.Sehingga pengaruh dari KAMMI secara tidak langsung menghegomi mahasiswa yang ikut dalam tutorial PAI(Pendamping Agama Islam).

5. Kondisi Sosial Sekitar Kampus
KAMPUS I:
Batas utara
-- Berbatasan langsung dengan jalan Ring Road Utara dan Beberapa Kampus(STMIK AMIKOM)

*. Batasan Selatan
-- Berbatasan dengan minimarket, beberapa kost2an dan rumah makan.
*. Batasan Timur
-- Berbatasan dengan ruko, rumah makan, dan beberapa salon.
*. Batasan Barat
-- Berbatasan dengan ruko dan beberapa kost2an.

KAMPUS II
Batas Utara
Berbatasaan dengan pedagang buku, ruko dan kost2an.

Batas Timur
Berbatasan dengan beberapa kost2an, fotocopy, warung makan, dan warung kelontongan.


Batas barat
*. Berbataasan dengan Supermarket fotocopyan dan tempt makan.
*. Profesi Penduduk di sekitar kampus, sebagaian besar di didominasi penjual makanan, pengusaha salon, pengusaha fotocopyan, warnet, dan penjual pulsa.

Potensi radikalisasi karena adanya implikasi dari pihak luar ada beberapa yg berpotensi misalnya adanya pungutan liar dari pihak aparat. Hanya ada satu sekretariat organisasi di masyarakat di sekitar kampus II UPN yaitu PEMBEBASAN yg berada kurang lebih 500M selebihnya tidak ada lagi

6. Situasi Kampus Dan Luar Kampus
Konflik yang sedang terjadi:
1. Konflik Antar Mahasiswa
Konflik ini adalah masalah klasik yang tak terselesaikan dari dahulu. Konflik horizontal ini sudah menjadi kebanggaan bagi mereka yang berkonflik hingga menjadi doktrin kepada juniornya yan g harus dilaksanakan dan tak terbantahkan oleh junior-juniornya. Kondisi ini dapat bertahan sampai sekarang karena ada sebuah dukungan yang solid dari senior-senior mereka yang telah lulus secara maril dan materil. Bahkan senior-senior mereka yang sekarang menjadi dosen dijurusan mereka. Mereka ( yang berkonflik ) tergabung dalam sekutu-sekutu yang terdiri dari beberapa jurusan dan fakultas. Misalnya saja, jurusan Teknik pertambangan bersekutu dengan jurusan teknik geologi dan Fisip sedangkan rivalnya adalah yang tergabung dalam partai PISS ( teknik Perminyakan, pertanian, salah satu jurusan di fakultas Ekonomi dan Fti). Tapi sekutu-sekutu ini tidak pernah berkonflik fisik atau tawuran, hanya ketemu dalam perebutan kursi kepresidenan Mahasiswa. Jurusan yang sering terlibat dalam beberapa tawuran misalnya, T.pertambangan Vs T.Perminyakan, T.geologi Vs T.Perminyakan, T.industri Vs T.Kimia dan sempat terjadi tawuran antar fakultas yaitu FTI Vs FISIP. Sumber konflik berasal dari beberapa masalah arogansi jurusan dan beberapa alasan karena politik kampus.




2. Konflik antar Dosen

Konflik antar Dosen ini tak banyak dosen, karyawan bahkan mahasiswa yang mengetahui. Sumber konflik berasal dari ketidaksepahaman dalam metode-metode mengajar dan aturan dalam jurusan. Biasanya hanya berberapa individu saja yang berkonflik. Dan mereka tergabung dalam beberapa kelompok kecil saja. Misalnya beberapa struktur pengurus jurusan yang sepakat dan tidak sepakat dengan kebijakan Dekan fakultas.

3. Respon Civitas Akademika Khususnya Mahasiswa
Mengenai respon mahasiswa tentang konflik horizontal sudah ada beberapa upaya penyatuan yang dilakukan dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan yang dipelopori oleh BEM Universitas, tetapi tetap saja mengalami jalan buntu. Kegagalan penyatuan dikarenakan masih kentalnya semangat arogansi jurusan, yang menganggap jurusan merekalah yang paling kuat, tanpa masuk kedalam BEM Keluarga Mahasiswa pun mereka merasa dapat menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dari sekian banyak Mahasiswa yang sepakat dengan kondisi konflik, ternyata masih banyak juga mahasiswa yang tidak sepakat dengan hal itu. Biasanya mahasiswa yang tidak sepakat berasal dari jurusan atau fakultas non teknik.

4. Sejarah Pelawanan
Mengingat sejarah tak banyak yang bisa dibanggakan oleh kampus Upn. Sejarah perlawan memang sempat ada dikampus ini tetapi tidak signifikan dan hanya sampai pada saat kampus-kampus lain mendesak egar kampus upn terlibat dalam agenda-agenda aksi. Setelah sekitar pertengahan tahun 2004 ada beberapa perlawanan kawan-kawan mahasiswa yang berbuntut pendudukan gedung rektorat, tapi hanya sampai pada masa itu saja. Itu bukan hanya dialami oleh organisasi-organisasi internal kampus yang notabenenya dibiayai oleh birokrat, tapi organisasi external yang berada dikampus upn juga mengalami hal yang sama.
Belakangan sekitar februari 2010 muncul perlawanan dalam bentuk aksi menolak absensi 85% yang dilakukan oleh mahasiswa T.Perminyakan. dengan kata lain sejarah perlawanan dikampus upn tidak besar dan serangan-serangan masih spontan dan sporadis sedangkan isu-isu yang dituntut masih ekonomis belum politis.

5. Konflik yang berkembang di luar kampus
Sama seperti diatas konflik yang berkembang adalah konflik horizontal ( mahasiswa Vs mahasiswa ) hanya bedanya dilakukan di luar kampus. Masalah konflik diluar kampus biasanya dipicu oleh permasalahan pribadi (pacar,mabok dll) yang melibatkan banyak orang dalam konflik tersebut. Biasanya dilakukan didepan pertokoan dekat kampus dan dikosan jika kronologis kejadiannya adalah penyerbuan oleh individu atau sekelompok orang. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa kuliah di UPN atau mahasiswa daerah selain jogja yang tinggal di asrama. Masyarakat sudah banyak melakukan upaya pencegahan konflik, biasanya dilakukan dengan cara melibatkan anak-anak kos dalam berbagai agenda-agenda RT-RW yang bertujuan untuk mengakrabkan anak kos yang masuk dalam RT nya.

{ 1 komentar... read them below or add one }

Kevin Blog mengatakan...

Bagus gan artikelnya, ane tertarik ama T.Pertambangannya tuh karna ane pengen nya ke pertambangan tapi di universitas jogja

kalo biayanya gimana ya itu ? Ada gk rinciannya ? Mungkin pengalaman situ pas masuk UPN dulu
mohon penjelasan

Poskan Komentar